Sinopsis Buku - Resensi Buku Mengarungi Badai Pandemi

Resensi oleh: Iqbal Aji Daryono, Penulis & Kolumnis
 
 
Situasi ini extraordinary, sehingga membutuhkan action dan policy yang juga extraordinary.
 
Pesan yang terlontar dari Ibu Menteri Keuangan itulah spirit utama yang ingin digambarkan secara detail dalam buku ini. Bersampul warna ungu, berjudul Mengarungi Badai Pandemi: Kisah di Balik Layar Para Pengelola Surat Utang Negara.
 
Sebagaimana tersirat pada judulnya, buku ini menggambarkan bagaimana para DSUNers alias seluruh pasukan Direktorat Surat Utang Negara menjalankan berbagai rangkaian aksi,  untuk mengeksekusi langkah-langkah strategis dalam menyelamatkan perekonomian negara akibat terjangan pandemi Covid-19.
 
Dengan penekanan tentang “di balik layar”, tentu saja yang tergambar di buku ini bukan semata langkah-langkah yang bersifat formal alias kebijakan-kebijakan di atas kertas, melainkan sampai ke wilayah detail cerita riil.
 
Maka, yang muncul di buku ini bukan hanya deretan angka ataupun pasal-pasal, melainkan juga peristiwa-peristiwa, sosok-sosok manusia, gambaran perjuangan jatuh bangun para pegawai Dit SUN dalam mempersiapkan pelaksanaan setiap detail kebijakan, hingga ke benda-benda apa pun yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa itu. Mulai dari laptop, ponsel, kotak-kotak di layar Zoom, kertas-kertas, cangkir-cangkir kopi, hingga nasi sayur, yang menemani para pejuang Surat Utang Negara dalam menjalani malam-malam menegangkan mereka.
 
Itulah kenapa, gaya penulisan yang tersaji di buku ini juga bukan gaya pelaporan formal standar, melainkan gaya storytelling. Dengan storytelling, sosok-sosok yang diceritakan tak cuma dihadirkan dalam peran resmi mereka, melainkan sebagai manusia-manusia.
 
Peristiwa-peristiwa yang disajikan pun bukan sekadar rentetan peristiwa seremonial, melainkan aneka peristiwa kehidupan yang mengajak pembaca untuk melihat bahwa penggerak langkah-langkah strategis Dit SUN bukan robot-robot atau komputer belaka, melainkan makhluk-makhluk yang bisa tertawa, bisa menangis, bisa mengantuk dan lelah tiada tara, bahkan bisa pula terkuras habis emosinya.
 
Dari situ, diharapkan publik pembaca dapat ikut “terlibat” dalam segala proses yang berlangsung, baik keterlibatan secara kognitif maupun afektif, sehingga potensi-potensi sikap apriori atas berbagai kebijakan perekonomian dapat berkurang.
 
Tak kurang dari 25 penulis terlibat dalam penyusunan buku ini. Menariknya, selain sebagai penulis, mereka semua juga berposisi sebagai narasumber, alias pelaku dari segenap jalan cerita, sehingga dapat dikatakan bahwa ini buku yang benar-benar ditulis dari dalam.
 
Adapun sistematika buku ini sendiri disusun dengan runtut, dari hal paling besar lalu ke yang lebih spesifik. Mulai dari gambaran pemahaman awal terkait situasi pandemi yang menyebabkan terpukulnya ekonomi, sehingga mensyaratkan langkah-langkah taktis darurat.
 
Awalan itu diposisikan pada bab pertama. Pada bab kedua, dikisahkan bagaimana untuk mengeksekusi kebijakan-kebijakan perekonomian itu dibutuhkan sinergi antara dua lembaga besar yang menjadi pengawal ekonomi Indonesia, yaitu Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. Sinergi itulah yang akhirnya mewujud dalam skema burden sharing antara dua lembaga.
 
Setelah semua fondasi itu tertata, langkah-langkah konkret pembiayaan dijalankan. Pada bab ketiga, dikisahkan tentang proses penerbitan Global Bond secara kejar tayang. Memang, tak bisa lagi waktu dibuang-buang. Semuanya harus dikerjakan secepat Bandung Bondowoso membangun seribu candi. Masalahnya, semua itu harus berjalan dalam suasana adaptasi normalitas baru, yaitu perjumpaan fisik yang sangat minim antara para pelaksana maupun segenap stakeholder termasuk para investor.
 
Maka, pada bab ini mulai dilukiskan segala ketegangan dan kegagapan para pegawai Dit SUN akibat belum cukup mapannya adaptasi dengan ritme kerja yang nyaris total mengandalkan gawai dan aplikasi virtual meeting. Belum lagi bagaimana semua itu membawa ganjalan komunikasi dengan pihak di luar Dit SUN sendiri, utamanya para investor.
 
Tidak tanggung-tanggung, karena gerak cepat ini Indonesia menjadi negara pertama di Asia yang berani menerbitkan sovereign bonds sejak pandemi melanda.
 
Pada bab empat situasi yang sama berulang, dengan tak kalah cepat dan tak kalah menegangkan. Kali ini, program yang dijalankan adalah penerbitan Samurai Bond. Bukan hanya wilayah teknis dengan rapat-rapat virtual yang menjadikan komunikasi tidak semulus pada situasi normal pada proses penerbitan Samurai Bond ini. Dinamika komunikasi antarbudaya juga menjadi bagian penting cerita, sebab para investor Jepang memiliki karakter kultur yang khas. Sisi semacam ini pasti tak pernah terpikirkan oleh publik yang selama ini hanya mengakses berita-berita resmi terkait Samurai Bond.
 
Selanjutnya, pada bab lima, langkah pembiayaan yang ditempuh adalah penerbitan ORI. Meski sasarannya lebih ke investor dalam negeri, bukan lantas tak ada tantangan pada project kali ini. Selama ini, pelaksanaan launching dan segenap pendukung publikasi ORI bisa melibatkan segala jenis kemeriahan, yang mampu menarik minat banyak orang. Dengan situasi pandemi, semua itu mesti menghadapi kompromi-kompromi. Mulai dari persiapan dokumen dan segenap sistem pendukungnya, komunikasi dengan para mitra distribusi, hingga ke para calon investor.
 
Menyusul kemudian cerita tentang lelang SUN yang lagi-lagi mesti dijalankan dalam situasi keterbatasan era pandemi, dipungkasi dengan bab tujuh sebagai penutup. Dalam epilog ini, ditegaskan bahwa ternyata, seterbatas apa pun gerak para punggawa SUN akibat situasi pandemi, segala perjuangan yang dilaksanakan dengan totalitas sudah pasti membawa hasil yang setimpal. Terbukti semua program pembiayaan yang dijalankan dapat dikatakan membawa hasil yang gemilang.
 
Buku ini memang menggambarkan “jerohan” Direktorat SUN. Meski demikian, narasi di dalamnya dari awal hingga akhir tidak ditujukan hanya bagi kalangan internal SUN ataupun kalangan Kementerian Keuangan. Karena itu, selain disajikan dengan gaya bercerita, konten yang disajikan pun dipilih yang paling mudah dipahami oleh publik luas.
 
Harapannya, buku Mengarungi Badai Pandemi dapat menjadi satu jalur komunikasi kepada masyarakat luas, agar mereka juga turut memahami berbagai proses riil dalam mempersiapkan langkah-langkah pembiayaan untuk penyelamatan ekonomi nasional. []
Posted by Admin DJPPR on Jul 26,2021 07:24:10