Berharap ECA Indonesia yang Lebih Bertaring

Oleh: Ivan Yulianto, Pegawai Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan

Perekonomian indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan terutama berasal dari faktor eksternal. Tantangan tersebut antara lain turunnya harga komoditi, melemahnya perekonomian dunia, dan ketidakpastian pasar keuangan internasional. Pelemahan ini berdampak negatif pada kinerja ekspor Indonesia, yang didominasi oleh sektor sumber daya alam dan sektor padat karya.

Menurut Bayu Krisnamurti (2013) penurunan ekspor Indonesia disebabkan oleh (i) aspek eksternal yaitu menurunnya permintaan dari beberapa negara mitra dagang Indonesia akibat pengaruh krisis global dan (ii) aspek internal berupa penurunan harga beberapa komoditas utama ekspor Indonesia seperti lemak dan minyak hewan/nabati.  Penyebab menurunnya ekspor dari aspek eksternal dapat diatasi dengan ekstensifikasi ke pasar non tradisional sedangkan penyebab  menurunnya ekspor dari aspek internal dapat diatasi dengan meningkatkan daya saing produk nasional dan efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi .

Terkait pembiayaan ekspor, pemerintah mempunyai dua lembaga mendapat gelar sebagai Export Credit Agency (ECA) Indonesia yaitu Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) persero yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1982 tentang Pelaksanaan Ekspor, Impor dan Lalu Lintas Devisa dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. ASEI bertugas memberikan fasilitas penjaminan dan asuransi ekspor sedangkan LPEI dirancang untuk memberikan fasilitas pembiayaan, penjaminan, dan asuransi untuk ekspor, di samping punya tugas lain memberikan jasa konsultasi.

Keberadaan ECA Indonesia khususnya LPEI dengan sovereign status dan sifat sui generis yang disandangnya, diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata untuk mendorong ekspor nasional, terutama dalam rangka fill the market gap, yaitu ketika perbankan dan asuransi nasional tidak mampu melewati batas-batas prudential yang ditetapkan BI dan OJK, seperti ketentuan tentang ATMR; rasio kecukupan modal; BMPK; retensi sendiri; dan larangan pemberian kredit kepada pihak asing sesuai PBI No.07/14/PBI/2005, bahkan LPEI dapat memberikan jasa konsultasi dan pembiayaankepada eksportir yang nonbankable.

 

*) Artikel selengkapnya dapat diunduh pada file lampiran.

 

File Terlampir
Displaying 1-1 of 1 result.

Berharap ECA Indonesia yang Lebih Bertaring

Posted by Dit. PRKN on Nov 01,2016 13:19:27